![]() |
| taken from fatih-hasan.tumblr.com |
Tahu dan percaya itu berbeda. Bahkan pengaruhnya dalam dunia nyata pun nantinya tak akan sejalan.
Tahu itu sebatas memasukkan informasi melalui indera yang kita punya. Mata, hidung, telinga, lidah, kulit. Tahu itu sebatas setuju bahwa langit itu berwarna biru saat melihatnya tanpa ada tindak lanjut yang lebih. Tahu itu sebatas cabai itu pedas saat merasakannya dengan lidah.
Percaya lebih dari sebatas indera bekerja. Percaya melibatkan otak dan hati untuk memproses apa yang terjadi dan ditindaklanjuti. Percaya itu seperti yakin bahwa cabai itu pedas tanpa harus merasakannya lagi. Tapi ingat, keyakinan itu tidak timbul serta merta. Ada saat di mana kita ingin tahu bagaimana rasa cabai atau bahkan saat ada orang yang bilang cabai itu pedas, kita tidak percaya. Untuk memuaskan rasa ingin tahu, kita mencoba merasakannya. Inilah yang disebut sebagai fase pencarian dan pembuktian. Di saat terbukti dan terpuaskan rasa ingin tahu, otak dan hati merekam apa yang terjadi. Yakin bahwa cabai pedas. Tidak hanya sampai di situ, keyakinan itu kemudian ditindaklanjuti, misal dengan tidak terlalu banyak makan cabai agar tidak sakit perut.
Tahu dan percaya itu beda. Tahu itu sebatas indera, percaya lebih dari itu.
Dalam agama pun, kedua hal itu berbeda. Coba aku tanya, kamu percaya atau tidak bahwa kamu bisa sewaktu-waktu mati? Lalu percaya kah kamu bahwa ada kehidupan yang abadi setelah mati? Boleh jadi kamu bilang percaya, tapi aku tidak yakin kamu benar-benar percaya. Aku yakin bahwa kebanyakan dari kamu sebatas tahu. Buktinya?
Sudahkah kamu shalat tepat waktu? Belum??? Bagaimana nanti kalau kamu diambil nyawanya lima menit setelah azan Shubuh? Tidakkah ada rasa takut di hatimu? Kalau kamu masih belum melakukan dan merasakan, maka kamu masih dalam posisi tahu, bukan percaya.
Sudahkah kamu tidak berprasangka buruk pada orang lain? Belum??? Berarti kamu tidak percaya bahwa Allah selalu tahu apa yang ada di hatimu. Kamu sebatas tahu, hasil membaca dari buku atau mengikuti ceramah-ceramah.
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri. Kamu itu tahu atau percaya? Щ(ºДºщ!!)
Lagi, tahu dan percaya itu beda. Ini pilihan kita untuk mau tahu atau percaya.

2 koment:
Wahhh...menarik juga tulisannya...aq boleh komentar yach..
gimana klo judulnya dibuat 'Tahu dan Percaya itu bagaikan tangga'...kok tangga yach?? yach, Tahu itu adalah tangga 1 dan Percaya adlh tangga 2(lebih tinggi)...keduanya sejalan. Untuk bisa sampai ke tangga 2 maka harus melewati tangga 1. Untuk mencapai level percaya maka harus 'Tahu' terlebih dahulu. seperti kata km, "kamu percaya atau tidak bahwa kamu bisa sewaktu-waktu mati? Lalu percaya kah kamu bahwa ada kehidupan yang abadi setelah mati?". kita itu diwajibkan untuk mencari sebab sesuatu sebelum meyakininya. Kita percaya sewaktu-saktu bisa mati, kita juga percaya ada kehidupan abadi setelah mati, tapi bagaimana kita percaya semua itu. Apa kita harus mengalaminya dulu? kan ngak mungkin...Kita menjadi percaya karena kita tahu akan hal itu. Kita tahu karena kita telah mencari tau, dan setelah tau akan kebenarannya maka kita percaya dan selanjutnya kita akan yakin. Tahu itu adalah proses pembelajaran. Kita harus melewati tahap ini sebelum naik ke tahap percaya. Kita percaya Tuhan itu satu. Bagaimana caranya kita bisa percaya kalo kita tidak tahu alasannya. Kita percaya Tuhan itu satu karena agama kita yang memberiTahu dan mewajibkan kita Meyakini hal yang telah kita Tahu tersebut.
Dan jika kamu mau mengkaitkan antara keTahuan dan kepercayaan semisal contoh yg km tulis(klo percaya bisa mati habis subuh kenapa ngak sholat tepat waktu), maka disini ada faktor iman yang menentukan. Ada orang yang tahu dan percaya mencuri itu dosa. Setiap kali habis mencuri ia sangat takut akan ditimpa balasan. Tapi kondisi sekelilingnya sering memaksanya untuk berbuat hal tersebut. Orang ini percaya mencuri itu dosa tapi keimanannya kurang sehingga ia berulang-kali melakukan hal yang sama.
Percaya dan Tahu itu seringnya sejalan, contoh: Orang beriman 'percaya' rezeki itu datangnya dari Allah, tapi dia juga 'tahu' rezki itu harus dicari(diusahakan). Klo kita cuman yakin rezki akan diberikan oleh Allah, lantas hanya berdiam diri saja maka ini adalah pemahaman yang salah. Makanya agar tidak salah memahami antara sesuatu yang dipercaya atau diyakini maka kita harus mencari 'Tahu'.
oke...sampai sini...maaf kepanjangan...dan inilah yang saya fikirkan tentang tulisan anda....maaf klo tidak berkenan...Terima kasih....
by: Untung
Terima kasih untuk feedback nya :) Sangat menarik dan saya pun setuju bahwa untuk mencapai level percaya, kita harus tahu terlebih dahulu.
Poskan Komentar